Cerita Mesum

Semua Karena Nafsu

Ilham, 22 tahun, adalah anak orang kaya di kota Semarang. Rumahnya besar dan megah, bahkan terlihat bak gedung pertemuan saja. Terdiri dari banyak sekali ruangan serta pekarangan yang luas. Ayahnya, Wahyu Sukotjo, bekerja di perusahaan pertambangan terkemuka di dunia.
Rumah besar keluarga Wahyu Sukotjo terdiri dari tiga bangunan. Bangunan utama adalah ditempati oleh Pak Wahyu dan istrinya. Bangunan utama ini diapit oleh dua bangunan di kiri-kanannya. Bangunan kiri ditempati anak paling bontot keluarga itu. Bangunan kanan adalah tempat di mana tamu-tamu biasanya menginap. Sedangkan lantai dua rumah besar itu ditempati Ilham. Lantai dua memiliki banyak ruangan dan kamar yang mana sering digunakan oleh Ilham untuk menampung teman-temannya yang berkunjung.
Ilham adalalah anak ke-3 dari empat bersaudara. Dua orang kakaknya adalah laki-laki dan sudah menikah semua. Yang paling bontot adalah seorang perempuan yang masih menginjak kelas 3 SMU. Kakaknya yang paling besar, bernama Herry Sukotjo, berumur 36 tahun memiliki 2 orang anak, sekarang menetap di Jakarta. Sementara kakaknya yang nomor dua, bernama Setyadi Sukotjo, berumur 28 tahun memiliki seorang anak, dan tinggal di Purwokerto.
Ilham kuliah di Universitas Diponegoro, sebuah kampus negeri ternama di kota itu bahkan juga salah satu kampus ternama di Indonesia. Ilham sering membawa teman-teman sekampusnya ke rumah, apalagi Ilham bukanlah pemuda yang sombong. Jadi rumah Ilham yang besar itu tidak pernah sepi, ada saja teman-temannya yang saban hari berkunjung ke rumahnya. Tetapi hanya ada beberapa teman dekat saja yang paling kerap berkunjung ke rumah itu. Kadang beberapa di antara mereka bahkan sampai menginap berhari-hari. Keluarga Ilham tidak pernah memprotes itu semua. Apalagi mereka juga tahu prestasi Ilham di kampus cukup cemerlang.
Salah satu dari beberapa teman kampus Ilham yang sering menginap di rumah Ilham adalah Robby. Robby adalah pemuda asal Banjarnegara, Jawa Tengah, yang kuliah di Fakultas Tekhnik UNDIP. Robby bahkan pernah diminta Ilham tinggal di rumahnya saja, tetapi ditolak oleh Robby. Robby kadang bahkan sering terlibat dalam acara-acara yang diadakan oleh keluarga Ilham, walaupun hanya sekedar membantu Ilham temannya itu. Pertemanan Ilham dan Robby memang sudah berlangsung sejak semester satu. Mereka teman se-jurusan di Fakultas Tekhnik.
Oleh karena itu keluarga dekat dan keluraga jauh Ilham banyak yang sudah mengenal Robby dan beberapa teman Ilham lainnya. Salah satunya adalah Intan Priana. Teman-teman Ilham memanggil wanita itu dengan sebutan Bu Intan. Bu Intan, wanita berumur 45 tahun, adalah istri dari Suriono Rusmanto, 51 tahun. Bu Intan dan Suriono Rusmanto adalah orang tua Windya Ristanti. Sedangkan Windya Ristanti adalah istri dari kakak Ilham yang bernama Setyadi Sukotjo. Bu Intan sering bertemu dengan teman-teman Ilham manakala keluarga besannya itu mengadakan acara.
Bu Intan asli dari Sukabumi. Kulitnya mulus-kulit langsat. Postur tubuhnya standar orang Indonesia, akan tetapi beberapa bagian tubuhnya akan membuat laki-laki iseng akan sering memelototinya. Dadanya, pinggulnya, dan pantatnya memang bisa menciptakan khayal mesum seseorang. Dan seseorang yang paling sering mencuri pandang ke Bu Intan adalah Robby.
Robby pertamakali bertemu Bu Intan dua tahun lalu ketika keluarga Ilham mengadakan acara tujuh bulanan kehamilan Carol, istri Herry Sukotjo, kakak Ilham. Pakaian kebaya ketat yang mecetak lekuk-lekuk tubuh Bu Intan sangat menyita perhatian. Robby yang waktu itu ikut bantu-bantu di rumah temannya itu begitu terpukau dan meneguk air liur menyaksikan Bu Intan.
Akan tetapi Robby tidak pernah menunjukkan secara terbuka lirikan-lirikan matanya ke bagian-bagian tubuh Bu Intan. Hanya satu orang yang mungkin tahu, yaitu Bu Intan sendiri. Bu Intan tahu ketika orang-orang lengah, maka mata Robby selalu jelalatan melihat dadanya. Mereka sering beradu pandang, akan tetapi hanya sekilasan saja. Tidak lebih-tidak kurang.
Maka seringlah Robby onani di kamar mandi sambil menghayalkan Bu Intan yang berbody semok. Ia sering meremas-remas kontolnya sambil memandangi foto Bu Intan yang tanpa sepengetahuan orang sengaja di ambilnya dari album foto keluarga yang ditemukan Robby di kamar Ilham.

Beberapa kali mereka pernah bertemu lagi di rumah itu dalam acara-acara lain, dan di antara beberapa pertemuan itu pernah terjadi obrolan singkat. Walau Bu Intan tidak sedang memakai kebaya, akan tetapi pandangan mata Robby selalu terlempar ke bagian-bagian tubuh Bu Intan. Seperti ketika suatu sore, enam bulan lalu, Robby bertemu dengan Bu Intan di rumah itu. Robby ketika itu sedang bergegas turun dari lantai dua untuk keluar membeli rokok. Di bawah, di bangunan untuk tamu, ia bertemu dengan Bu Intan yang sedang duduk membaca Koran.
“Eh, Bu Intan, selamat sore, Bu,”sapa Robby ramah. Ia berlaku biasa saja.
“Heh, nak Robby. Sore juga. Mau pulang?”balas Bu Intan sambil melipat Koran.
“Ah, nggak kok, Bu. Mau beli rokok aja keluar sebentar. Bapak mana, Bu?”
“Belum datang. Ini saya lagi nunggu bapak. Karena besok mau ke Jakarta sama-sama Papa dan Mama-nya Ilham.” Saat itu Bu Intan hanya berpakaian santai. Celana panjang berbahan longgar serta kemeja wanita. Robby lalu memutuskan duduk sejenak menemani Bu Intan yang sintal itu.
“Emang ada acara apa di Jakarta, Bu?” tanya Robby sambil bergerak duduk. Ia mengambil tempat duduk di kursi yang berada di depan kanan Bu Intan. Mereka sama-sama menghadapi sebuah meja yang ada di teras bangunan itu. Cuaca di rumah dan di pekarangan sungguh sejuk.
“Mas Herry lusa merayakan Ultah anaknya paling besar. Jadi Mas Herry minta orang-tuanya datang. Kami hanya diajak menemani saja,”ujar Bu Intan menerangkan dengan mimik bersahabat. Lalu perempuan itu merasakan hidungnya mencium parfum yang dipakai Robby. ”Eh, nak Ilham mana?” tanya Bu Intan selanjutnya.
“Ilham lagi jumpain dosennya, Bu,” ucap Robby. Di hadapan Bu Intan yang sedang sendiri itu Robby tidak menyembunyikan kekaguman dan keterpesonaanya akan keayuan Bu Intan. Dan Bu Intan sangat merasa dirinya begitu dipandangi oleh sepasang mata anak muda yang duduk di dekatnya itu. Memang Bu Intan tidak melihat mata itu memandangi secara jelalatan atau secara begitu kurang ajar, akan tetapi ia sering memergoki mata itu secara sembunyi menatap ke arah dadanya ketika ia lengah. Dan Bu Intan entah mengapa tidak menunjukkan sikap menegur.
Di mata Bu Intan, di antara teman-teman Ilham yang sering datang Robby merupakan sosok yang tampan. Robby-lah teman dekat yang paling sering diajak ke mana-mana saja oleh Ilham. Rambutnya ikal serta hidung agak mancung. Wajah ovalnya menambah kemanisan di wajah pemuda itu. Dan Bu Intan sangat paham bahwa dari sekian banyak teman-teman Ilham, Robby-lah satu-satunya yang memberi atensi padanya, pemuda itu kerap mencoba mengajak berbicara walau hanya sejenak. Dan entah mengapa Bu Intan hafal bahwa pemuda di depannya ini selalu wangi oleh parfum.
Robby menikmati keberduaanya dengan Bu Intan. Ia dengan percaya diri menggoda secara wajar wanita paruh baya di depannya itu. Robby tahu keberaniaanya muncul sejak ia bertemu dengan Pak Suriono Rusmanto, suami dari Bu Intan. Pak Suriono Rusmanto adalah Kepala Bagian di salah satu instansi Dinas di Semarang. Di usianya yang sekarang 51 tahun, sosok Pak Suriono Rusmanto kadang terlihat kelelahan membawa perutnya yang sangat buncit. Kaki-kaki yang pendek menambah tampilan yang terkesan lucu. Dalam benak Robby sering muncul kesimpulan bahwa Pak Suriono Rusmanto pasti tidak bisa meladeni nafsu seks Bu Intan.
Godaan-godaan Robby memang tidak pernah kurang ajar. Malah godaan-godaan itu jika dilontarkan pada anak-anak ABG hanyalah guyonan basi, tetapi menjadi godaan yang tidak seharusnya jika dilontarkan kepada wanita paruh baya.
“Eh, ketawanya jangan bablas, Bu. Ntar hidungnya jatuh lho.”
“Ketawanya ntar habis lho, Bu.”
Hanya goodaan seperti itu yang ia lontarkan manakala ia menceritakan hal-hal lucu. Tetapi yang membuat Robby makin berani adalah ketika sore itu Ilham datang.
“Eh, itu nak Ilham dah datang.” Kedatangan Ilham menjadi isyarat bagi Robby bahwa obrolan mereka harus segera diakhiri. Robby bergegas bangkit. Bu Intan juga bergegas bangkit dan ia hendak menuju bangunan utama. Jadi ia berjalan bersisian dengan Robby di koridor yang menuju bangunan utama.
“Hfft, gara-gara ngobrol ama ibu jadi lupa beli rokok nih,”ujar Robby dengan suara mendayu sambil menggaruk rambutnya.
“Makanya kamu itu malah ngelucu terus sih.”timpal Bu Intan dengan suara agak manja.
“Mmmhhf, jadi asem nih mulut. Ga ada yang diisep.”ucap Robby lagi santai.
“Hihihi, isep permen aja biar ga asem.” Mereka hampir sampai di semacam persimpangan empat di koridor rumah itu. Arah ke kiri menuju dapur dan tangga ke atas, ke kanan menuju ke bangunan utama, dan lurus akan menuju ke bangunan di sisi lain juga menuju pekarangan lainnya.
“Mana dong permennya?” tanya Robby sambil berhenti dan menjulurkan tangannya. Ia tersenyum manis pada wanita itu. Wanita paruh baya itupun berhenti, ia dengan senyum yang agak manja memandang wajah Robby.
“Ih, beli sendiri dong,” ucap Bu Intan sambil seketika ia menepuk pelan telapak tangan Robby yang terjulur meminta. Bu Intan sangat paham dalam posisi mereka berhadapan begini mata pemuda ini mencuri pandang belahan dadanya yang tidak tertutup sempurna oleh kemeja longgarnya.
“Kirain Bu Intan punya,”sahut Robby tersenyum dan ia dengan berani menatap dada Bu Intan. Lalu dengan senyum yang manis ia berkata lagi,”oke deh. Aku ke atas dulu Bu,”Robby tersenyum mengangguk pamit kepada Bu Intan. Robby melangkah melewati sisi Bu Intan hendak menuju ke arah tangga yang menuju ke lantai dua.
“Iya. Kamu ini,”Bu Intan nyeletuk. Akan tetapi tangan kirinya bergerak, lalu jari-jarinya mencubit lengan Robby. Tindakan ini membuat langkah Robby berhenti sejenak, ia memalingkan wajah memandang Bu Intan. Bu Intan hanya diam membalas tatapan Robby. Rona wajahnya berada di antara tersenyum dan menantang manja. Lalu Robby berlalu sambil tersenyum sangat manis pada ibu setengah baya itu. Dan Robby tahu ia tidak boleh melanjutkan keberduaan itu sekarang. Akan tetapi benak Robby langsung memutuskan bahwa segera nanti ia akan menindak-lanjuti sinyal itu.
Dan Bu Intan sangat senang karena Robby tidak membalas. Bu Intan begitu suka pemuda itu tidak terburu-buru menanggapinya. Dan saat itu Bu Intan merasa pentil teteknya yang besar itu agak mengeras. Ia sadar mulai melangkah ke suatu arah tertentu. Bu Intan ketika bersendiri di ranjang, sering secara nakal membayangkan Robby. Bu Intan tahu persis pemuda itu sering menelitinya. Ia tahu pemuda itu sangat sering melemparkan tatapan pada bagian-bagian tubuhnya. Da Bu Intan suka. Ia bahkan sering berdebar manakala mata pemuda itu dengan terus terang sering memelototi tubuhnya jika tidak ada orang lain. Bu Intan suka melihat tubuh Robby yang ideal. Tidak terlalu tegap akan tetapi jauh dari kurus. Tidak terlalu tinggi tapi jauh dari pendek. Bahkan Bu Intan pernah sepintas mengukur selangkangan pemuda itu dengan tatapan matanya dan Bu Intan yakin kontol pemuda itu besar dan panjang.
Robby hanya menyesalkan mengapa ia tidak meminta nomor ponsel wanita itu. Bu Intan kadang bertanya dalam hati mengapa Robby tidak meminta nomor ponselnya. Tanpa mereka sadari, benak mereka ternyata sama-sama bertanya-tanya tentang hal yang sama. Robby diam-diam menghayalkan dapat menggeluti tubuh setengah baya itu. Bahkan Robby sangat mendambakan untuk bisa meniduri istri Pak Suriono Rusmanto itu. Dan ketika ia menghayalkan itu, Robby merasakan kontolnya tegang luar biasa. Robby yakin memek Bu Intan tebal dan empuk untuk dientoti.
Setelah kejadian itu mereka hanya sekali-sekali bertemu. Obrolan di antara merekapun hanya sekedar saja karena berada di antara orang-orang lain. Akan tetapi ketika orang banyak lengah, mata mereka seperti saling menyapa dan saling menyatakan kesenangan. Hanya tatapan mata.

*****************************************************************************
Enam bulan kemudian, sekitar hari Rabu tanggal 5 September 2007, rumah besar keluarga Wahyu Sukotjo pagi itu sudah ramai. Mobil berdatangan memenuhi parkiran halaman bangunan kiri dan kanan, serta jalan besar di depan rumah itu. Rumah itu jadi seperti gedung pertemuan saja. Tenda-tenda di pasang rapi menaungi seluruh halaman banguan utama. Hari itu keluarga Wahyu Sukotjo merayakan syukuran besar-besaran untuk 25 tahun usia pernikahan Wahyu Sukotjo dan istrinya.
Banyak teman Ilham yang datang membantu. Kebanyakan dari mereka membantu di bagian depan rumah. Menjadi tukang parkir dadakan, satpam dadakan, ataupun membantu tamu-tamu yang kadang terlihat bingung.
Hanya Robby dan satu orang lagi yang membantu di bagian dapur di belakang. Robby begitu terangsang menyaksikan tampilan Bu Intan hari itu. Bu Intan mengenakan kebaya hijau ketat. Pinggul dan pantatnya yang besar bergoyang ke sana kemari saat Bu Intan berjalan. Kebaya dengan belahan dada yang rendah itu semakin membuat tampilan dada besar Bu Intan terlihat sangat seksi di mata Robby. Sering Bu Intan mempertontonkan dirinya di depan Robby manakala Bu Intan lewat di depan Robby ketika harus ke dapur untuk suatu hal.
Acara berlangsung meriah, tetapi di antara kemeriahan itu terdapat dua pasang mata yang saling menggoda satu sama lain. Lingkaran keluarga dekat Pak Wahyu selalu berada di ruang utama tempat acara berlangsung. Hanya Bu Intan yang tampak sibuk mengatur sana-sini, makanan ini kesini-atau-makanan itu-kesitu, dan lain sebagainya. Sehingga ia kerap ke dapur.
Ada suatu saat ketika dapur sedang sepi dan hanya ada Robbby di sana duduk dekat meja, Bu Intan muncul dan berjalan ke arah meja. Ia menuangkan air putih ke gelas lalu secara perlahan berbisik pada Robby seraya mengangkat gelasnya ke mulut.
“Heh, matanya jangan gitu banget melihatnya, ”ujar Bu Intan perlahan. Bu Intan memang suka ketika anak muda itu mengagumi tubuhnya. Akan tetapi kadang ia begitu tersipu ketika mata anak muda itu memandang begitu vulgar. Ia tidak marah, Bu Intan hanya tidak ingin orang lain tiba-tiba memergoki kelakuan anak muda itu.
“Habis cakep banget, bu,”balas Robby perlahan. Wajahnya lurus ke depan dengan tenang sambil mengawasi situasi. Tangannya menyentuh sedikit jemari Bu Intan. Bu Intan membalas dengan kasar. Ia merenggut jemari Robby dan meremasnya. Dan itu semua ia lakukan dengan sikap tenang, Bu Intan masih meminum air putih dari gelasnya sambil berdiri di sisi Robby. Lalu Bu Intan berbalik, memandang ke sekitar. Ketika ia menyadari sekitaran ruangan itu kosong, Bu Intan menggerakkan jemarinya. Lalu kukunya yang runcing itu mencubit pipi Robby dengan sikap gemas. Lalu Bu Intan berlalu…
“Mmm, bu, minta nomor ponsel dong.” Bu Intan berbalik lagi lalu mengeja nomor ponselnya dengan lancar.

Waktu menunjukkan pukul 13.00, akan tetapi acara itu nampaknya belum juga akan berakhir. Robby sudah berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di kursi dekat pintu koridor yang menuju ruang utama. Jika ia memandang lurus ke arah ruangan utama tempat acara berlangsung, maka matanya akan langsung bisa melihat Bu Intan yang duduk di antara deretan ibu-ibu. Dan mereka rupanya telah saling berkirim sms.
“Habis ibu cantik, ayu, seksi, dan lain-lain,”begitu antara lain isi sms Robby.
“Masa sih?”balas Bu Intan.
“Iya, bu. Kalau hanya kita berdua di ruangan ini, ga tau deh, bu,”ucap Robby dalam sms-nya.
“Wow. Emang nak Robby mau ngapain kalau hanya berdua?”
“Ibu maunya apa?”tantang Robby.
“Apa iya, say?” balas Bu Intan.
“Apa dong, sayang?”Robby mendesak.
“Hmm, terserah nak Robby…hihihi..,”demikian balas Bu Intan. Ia tidak ragu menunjukkan kegenitannya.
“Aku akan membuat Bu Intan berkeringat,”
“Aw…! Aahh…! Capek dong…,”balas Bu Intan lagi.
“Iya. Capek dan enak, bu…,”balas Robby. Ketika ia selesai mengetik isi isms tersebut. Matanya langsung bergerak memandang Bu Intan. Dari kejauhan ia melihat Bu Intan menunduk membaca is isms tersebut. Lalu Bu Intan memandang kea rah Robby. Robby membaca sms yang masuk ke ponselnya.
“Kapan kamu bikin aku capek dan enak, sayang?”demikinlah is isms dari Bu Intan. Membaca isi sms itu Robby merasa kontolnya jadi super tegang. Ia memandang ke arah Bu Intan, lalu mereka saling pandang dari jauh. Dan dengan berani Robby menggerakkan tangannya ke selangkangannya. Tangan kirinya membuat gerakan untuk memperbaiki posisi kontolnya yang saat itu memang menegang-keras sekali. Bu Intan melihat semua aksi itu. Bu Intan kontan merasa putingnya mengeras dan memeknya basah. Bu Intan memencet meraih ponselnya.
“Tegang iya, say?”begitu sms yang dibaca Robby di ponselnya.
“Iya nih, Bu. Aku terangsang lihat Bu Intan,”balas Robby. Akan tetapi Robby tidak hanya sampai di situ. Ia tidak lagi ragu-ragu mengirim sms pada Bu Intan, ia melanjutkan.
“Bu Intan, kontolku tegang banget,ahh..”Bu Intan dengan dada berdegup kencang membaca isi sms tersebut. Lalu Bu Intan membalas.
“Sayang, ah, memekku gatel..,”Robby membaca sms tersebut dengan hayal penuh syahwat. Ia memandang lagi ke arah Bu Intan dari jauh. “Bu Intan…?” begitu sms Robby selanjutnya.
“Apa say..?” balas Bu Intan.
Setelah membaca pesan tersebut, mereka saling pandang dari kejauhan.
“Boleh nggak, Bu?” tanya Robby lagi dalam sms-nya.
“Apa..?” balas Bu Intan.
Lalu Robby mengirim sms lagi yang segera di baca oleh Bu Intan. Setelah menulis sms-nya terakhir, Robby pun bernajak pergi.
“Bu Intan, ke lantai dua dong sebentar yok..?” demikianlah isi sms yang dibaca oleh Bu Intan dalam ponselnya.
Begitulah sms di anatar mereka di tengah-tengah acara pernikahan perak keluarga Wahyu Sukotjo. Dan kini Bu Intan terlihat hilir-mudik antara ruangan utama dan dapur. Ia memperlihatkan sikap seolah-olah sedang mengatur para pembantu untuk mengatur sana-sini, padahal ia sedang menganalisa waktu untuk bergerak ke lantai dua.
Di ruang utama, acara terus berlangsung. Khotib yang diundang keluarga itu sedang memberikan ceramah.
Pada saat itulah Bu Intan tanpa ada yang tahu menaiki tangga yang menuju lantai dua. Kegenitan yang tersembunyi rapat-rapat dari tampilannya menuntunnya melangkah menemui pemuda yang telah lama diperhatikannya. Ia berbelok-belok di koridor-koridor yang terbentuk oleh ruangan-ruangan yang ada di lantai dua yang luas itu. Bu Intan sudah memperhitungkan bahwa ia bisa turun lewat tangga mana saja yang dianggapnya aman jika ada sesuatu yang tidak beres dalam aksinya ini. Bu Intan hafal dengan semua sudut lantai dua ini. Sehingga tidak lama kemudian ia sudah melihat Robby menunggu di depan sebuah kamar yang memang sering digunakan oleh teman-teman Ilham jika menginap.
Ketika ia masuk, Robby sudah duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Merak saling pandang dengan seyuman yang misteruius. Mata mereka berbinar penuh birahi.
“Ngapain sih..?” tanya Bu Intan. Ia tetap berdiri. Ia melangkah agak maju dari pintu. Dari matanya terpancar sinar birahi memandangi pemuda yang duduk di sofa.
“Duduk dong, Bu,”ujar Robby. Nafasnya tercekat. Robby menjulurkan tangan meraih jemari ibu setengah baya itu. Dengan gaya yang gemulai Bu Intan membiarkan tangannya diraih pemuda itu dan mengikuti tarikan tangan itu untuk duduk di sofa.
Robby memandang wanita paruh baya di depannya. Begitu sintal. Begitu seksi, begitu semok, pikirnya. Ia mendekatkan duduknya, sehingga tangan kiri perempuan berumur 45 tahun itu kini berada dalam pangkuannya. Ia mengangkat jemari Bu Intan ke bibirnya sambil memandangi mata Bu Intan lalu ia mencium jemari itu. “Mmmuahhh…,”
Bu Intan tersenyum manis memandang Robby ketika jemarinya dicium. Setelah itu mereka saling menatap. Dan tak ada yang bisa menolak ketika mulut mereka saling mendekat. Dan dua insan yang berbeda usia itupun berciuman lembut. Mereka menempelkan bibir dengan pelan. Lalu bagai dikomando mulut mereka saling terbuka. Mata mereka terpejam. Merka berciman dengan lembut dan penuh birahi. Bu Intan merasa dirinya penuh dengan syahwat, sehingga ia dengan antusias akhirnya memutar-mutar kepala membuat mulutnya dengan leluasa melumati bibir pemuda itu. Robby dengan dada berdegup menikmati ciuman itu, sesuatu yang lama ia angankan.
“Cccpppokk.., ”begitulah bunyi ciuman penuh nafsu di antara mereka ketika sejenak mulut mereka terlepas. Bu Intan membuka sejenak matanya yang sayu hanya untuk melihat bibir pemuda itu, lalu dengan penuh nafsu kembali ia membuka mulut untuk melumat bibir anak-muda itu. Tangan kirinya kemudian bergerak ke arah rahang Robby, lalu dengan cara seperti itu Bu Intan mendominasi ciuman, lumatan, dan cipokan penuh birahi itu. Bu Intan menarik rahang Robby agar mulut mereka semakin menempel. Bu Intan membuka mulut lagi lalu mengulum seluruh bibir anak-muda itu.
Robby terangsang tak bisa menahan. Ia mengarahkan tangan ke busungan dada Bu Intan. Perlahan ia meremasi dada busung itu. Robby merasa dada itu sangat besar dan kenyal. Khayal yang selama ini memenuhi malamnya akhirnya terpenuhi. Akhirnya ia bisa meremas dada Bu Intan yang selama ini hanya bisa ia intip secara sembunyi. Ia merasa kontolnya menegang sangat keras. Walau Bu Intan masih memakai pakaian kebaya pestanya secara lengkap akan tetapi semua itu tak mengurangi kenikmatan yang dirasakan oleh Robby dalam alam pikirannya.
Bu Intan meresponnya dengan makin liar. Ia mengisapi-isap bibir Robby, ia meliuk-liukkan lidahnya menjilati lidah dan bibir pemuda itu. Ia makin merapatkan tubuhnya ke badan Robby. Karena nafsunya yang meninggi , Bu Intan membusungkan dadanya.
Tubuh mereka merapat sangat ketat. Kini tangan kiri Robby sudah meremasi dada Bu Intan dari luar kebayanya, sementara tangan kanannya merangkul pinggul wanita itu. Bu Intan menegakkan tubuhnya menikmati remasan-remasan di dadanya, tangan kanannya merema belakang kepala pemuda itu, tangan kirinya membelai penuh nafsu wajah Robby. Bu Intan mencurahkan nafsu seksnya dengan menciumi, melumati, dan mencipoki mulut Robby.
Remasan tangan Robby di dada serta pinggulnya membuat nafsu seks Bu Intan membara. Ia melepas mulutnya dan menengadah. Dan saat itulah mulut Robby meluncur ke leher Bu Intan. Robby menciumi, mengecupi, dan menjilati leher mulus nan wangi itu. Ia memuaskan bibirnya dengan menjelajahi batang leher dan pangkal leher Bu Intan. Lidahnya melata menjilati leher mulus itu, bibirnya mengecupi penuh perasaan. Robby sepenuh nafsunya menikmati penyaluran birahi yang selama ini ia khayalkan. Tangannya tiada henti memberikan remasan penuh gemas di pinggul dan pantat bahenol Bu Intan yang tertutupi kebaya itu. Lalu matanya tak kuasa memandang gundukan daging terbuka di antara dada dan leher Bu Intan. Mulutnya segera turun, ia membuka mulutnya, dan daging itupun dijilatinya, dikecupinya. Bu Intan begitu sesak oleh nafsunya. Tangannya meremasi rambut anak muda yang sedang menjilati dadanya itu. Bu Intan makin resah ketika tangan Robby ikut meremas teteknya yang besar membusung.
“Hohh…,”dengusnya ketika remasan Robby di teteknya semakin dirasanya nikmat. “Mmmuah-mmuahhh-mmuuaahh…cup-cup-cup..,”Bu Intan akhirnya ikut larut dalam aksi Robby. Ia menciumi telingan Robby serta leher Robby.
“Ogghh-ookhhh enank banget sayang…,”Bu Intan mendesahkan birahinya di telinga Robby ketika ia merasa anak muda itu makin liar saja. Saat itu tangan kanan Robby meremas lembut busungan dada kanannya, sementara mulut anak-muda itu menciumi dan mendesakkan mulutnya ke busungan dadanya sebelah kiri. Bu Intan semakin terbakar. Bu Intan lalu secara naluri meremasi paha Robby. Ia dengan penuh nafsu menyalurkan kegatalan dirinya di paha itu. Robby yang memang sedang dilanda syahwat tinggi itu menurunkan tangannya dan memindahkan tangan Bu Intan dari pahanya ke selangkangannya. Dan Bu Intan pun merasa telapak tangan kirinya menyentuh benda kenyal di selangkangan Robby. Bu Intan meremas kontol Robby perlahan, dan itu membuat Robby mendengus.
“Nggghooh bu…ohhh bu…, “desahnya di tengah aksinya menciumi dada Bu Intan.
Bu Intan dengan penuh birahi meremasi kontol pemuda itu dari luar celana jeans Robby, dan Bu Intan jadi tahu betapa kontol itu sangat besar dan panjang. Itu membuat syahwat Bu Intan tak terkendali. Mulutnya bergerak mencium daun telinga Robby, lalu berbisik lirih.
“Ohhh sayang…buka sebentar celanamu sayang..,”
Robby pun menghentikan aksinya lalu secara cepat membuka retsleting celananya. Tangannya bergerak mengeluarkan kontolnya sendiri. Dan Bu Intan akhirnya melihat kontol itu. Tangan kirinya pun bergerak memegang kontol itu. Kontol itu hangat. Bu Intan merasakan tangannya bertemu dengan kekerasan otot kontol itu. Tegang sekali kontol ini, pikir Bu Intan. Dan Bu Intan begitu bernafsu dengan ukuran kontol itu yang besar dan panjang. Nafasnya mendengus-dengus. Lalu ia memandang wajah Robby dengan sinar mata penuh birahi.
“Ohh besar sekali kontolmu sayang…udah besar panjang lagi…,”Bu Intan betul-betul dilanda syahwatnya. Ia meremas-memijat dan mengocok kontol itu perlahan. Bu Intan menarik kulit kontol Robby dengan genggamannya di pangkal batang kontol Robby. Dan Bu Intan pun menyaksikan kepala kontol yang membulat besar dan kemerahan. Bu Intan begitu bernafsu mengamati ukuran kontol itu. Ia sejenak meremasi pangkal batang kontol itu lalu mengocoknya dengan tarikan cepat-pendek. Bibir Bu Intan berkilat karena nafsunya, lalu Robby yang begitu bernafsu dengan Bu Intan sejak dulu langsung membuka mulutnya dan melahap bibir ibu paruh baya itu.
Kedua insan berbeda usia itu kembali saling cipok, saling lumat, dan saling jilat. Kali ini ciuman-ciuman bibr mereka begitu liar. Kepala mereka berputar-putar mencari posisi paling enak untuk melumati dan mengulum bibir pasangannya.
Kali ini yang aktif adalah Bu Intan. Lidahnya dengan liar meliuk-liuk menjilati mulut Robby. Ia membantu aksinya dengan memegang belakang kepala Robby dan menguasai aksi cipokan bibir yang ganas itu. Sementara di bawah tangan kirinya bergerak perlahan mengocok kontol Robby. Tangan kirinya mencengkeram pangkal kontol Robby yang besar itu, dan mengocok kontol pemuda itu dengan lembut.
Aksi itu membuat Robby melayang-layang. Ia akhirnya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa serta menengadah menikamti kocokan-kocokan Bu Intan di kontolnya yang semakin menegang. Bu Intan dengan nafas tercekat semakin bernafsu mengocoki kontol pemuda itu. Bu Intan dengan tangan kanan merangkul ke belakang kepala pemuda yang sedang menengadah itu. Lalu ia menegakkan kepala itu dan mengarahkan kepala itu lalu ia dengan liar melahap dan melumat bibir Robby. Bu Intan memutar-mutar kepalanya untuk menghisap semua bibir Robby dalam mulutnya. Bu Intan lalu merapatkan tubuhnya dan menyandar di tubuh Robby. Bu Intan merasakan nafsunya semakin gatal.
Robby begitu birahi dan akhirnya tidak sanggup. Ia bagai orang kesurupan dengan buas mencipoki mulut Bu Intan, lalu ia berusaha membuka kebaya Bu Intan.
“Ohhh sayang …jangan Rob…,”Bu Intan menghentikan aksinya ketika Robby dirasanya tak kuasa mengendalikan lagi syahwatnya. Kedua tangan Bu Intan meraih kedua tangan Robby yang berusaha membuka pakaiannya itu. “Ga boleh sayang…,”ujar Bu Intan dengan nafas memburu.
Robby lalu bergerak memeluk Bu Intan. Ia menyembunyikan wajahnya di leher ibu paruh baya itu.
“Ooohhh Bu Intan…maafin aku, bu…aku ga tahan bu…,”bisik Robby parau-lirih. Nafasnya menderu-deru.
“Iya, aku juga sayang…tapi gak boleh sekarang yah…,”ucap Bu Intan. Ia meraih kepala Robby, dan menatap wajah pemuda itu lalu dengan sepenuh birahi ia membuka mulut lalu mencipoki mulut Robby. Lalu ia memandang lagi wajah tampan pemuda itu dengan senyuman nakal. Ia menggerakkan tangan kirinya meraih kontol pemuda itu.
“Aku juga pengen ini sayang…tapi ga sekarang…,”kata Bu Intan sambil kembali mengocok kontol besar itu. Bu Intan secara lembut mendekatkan mulutnya ke mulut pemuda itu yang sekarang diam kelam menahan nafsu seksnya. Ketika bibir mereka bersentuhan tipis, Bu Intan mengelurkan lidahnya lalu secara liar lidah itu bergerak liar di seluruh permukaan bibir Robby. Lidah Bu Intan menyapu seluruh bibir pemuda itu dengan gerakan-gerakan bibirnya yang liar. Robby hanya diam memejamkan mata menikmati aksi Bu Intan. Sesekali Bu Intan membuka mulut lalu menelan seluruh bibir Robby dan mengisap bibir itu panuh gairah.
“Udah dulu iya sayang,”ujar Bu Intan kemudian. “Ibu udah lama ninggalin acara, nanti semua kecarian. Jadi berabe kalau diterusin sekarang say.” Bu Intan akhirnya berdiri lalu bergerak ke cermin untuk merapihkan kekusutan dandanannya. Robby juga ikut berdiri. Ia menutup kembali retsleting jeans-nya. Ia bergerak ke belakang tubuh Bu Intan, lalu dengan lembut merangkul pinggul bulat Bu Intan. Ia menempelkan kontolnya di pantat semok itu. Robby mendesak-desakkan kontolnya di pantat Bu Intan. Lalu mulutnya mendengus-denguskan nafasnya di bahu Bu Intan yang terbuka. Dari pantulan cermin, Bu Intan melihat Robby mengeluarkan lidahnya dan menjilati bahu hingga ke kupingnya.
“Udah iya sayang…,”bisik Bu Intan. Bu Intan menemukan dirinya kembali sangat birahi melihat aksi pemuda itu. Akan tetapi akal sehatnya berbicara tidak mungkin menyelesaikan ini semua di tengah-tengan acara yang sedang berlangsung. Setelah merasa rapi kembali seperti sedia kala, Bu Intan berbalik. Ia mengecup titpis bibir Robby,”udah iya sayang, “bisknya lagi, lalu meraih tangan pemuda itu. Ia membimbing pemuda itu ke pintu. Bu Intan meraih kunci dan membuka pintu itu. Sebelum pintu itu membuka, Robby memeluk pinggang Bu Intan. Bu Intan menyandarkan tubuh bahenolnya di tubuh Robby.
“Ibu cantik!”bisiknya memandang mata Bu Intan.
Bu Intan membalas dengan mengecup bibir pemuda itu. Ia menggerakkan tangan kanannya ke bawah. Bu Intan kembali meremas kontol Robby dari luar celana dalam posisi berdiri di dekat pintu itu. Bibirnya mengecupi bibir Robby dengan lembut.
Bu Intan lalu memberikan sebuah remasan keras penuh kegemasan di kontol Robby dan berbisik dengan wajah dipenuhi birahi…”Aku pengen ngentot sama kamu sayang,”bisik Bu Intan.
“Aku juga pengen ngentotin Bu Intan,”balas Robby.

Baca Juga: Gairah Sex Di Dalam Sebuah Kamar Kost

Lalu setelah berbicara dan bersepakat, Bu Intan akhirnya keluar dari kamar itu.
Tidak ada satupun orang yang tahu kelakuan dua insan itu. Acara terus berlangsung hingga sore hari ketika tamu-tamu mulai beranjak meninggalkan rumah besar milik keluarga Pak Wahyu.

(Bersambung)
Besoknya jam 09 pagi Robby dengan hanya memakai celana dalamnya sedang tiduran santai di kamar kostnya yang tidak jauh dari Kampus UNDIP. Tubunya yang atletis itu ia biarkan terbuka dan tersiram oleh dinginnya AC. Robby saat itu sedang membaca sms yang baru diterimanya dari Bu Intan.
“Sayang, kamu nakal iya kemarin,”demikian is isms Bu Intan.
“Habis aku ngiler banget lihat Bu Intan dengan kebaya kemarin. Pas banget. Bu Intan semok banget, Bu, ”balas Robby.
“Masa sih say…?”tanya Bu Intan.
“Iya, Bu. Pengen banget aku meluk Bu Intan yang lamaaaaa banget,”Robby meneruskan rayuannya.
“Ibu tahu kok nak Robby sering curi-curi pandang selama ini sama ibu, ”sms Bu Intan.
“Iya, Bu. Aku udah lama emang suka lihatin Bu Intan,”balas Robby.
“Hmm, jadi nak Robby mau pacarin ibu iya?” tanya Bu Intan.
“Iya, Bu. Aku kangen ama Bu Intan. Aku suka ama Bu Intan,”balas Robby.
“Tau ga say…nak Robby bikin ibu blingsatan lho kemarin,”sms Bu Intan.
“Bu Intan…!?”tulis Robby dalam sms-nya.
“Apa say.., “balas Bu Intan.
“Aku pengen banget jumpa, Bu…,”sms Robby.
“Aku juga nak Robby…,”balas Bu Intan. “Aku penasaran lho…,”Bu Intan melanjutkan sms-nya.
“Aku juga, Bu. Aku pengen jumpa dan berduaan sama Bu Intan,”rayu Robby dengan mantap.
“Aku juga sayang,”jawab Bu Intan.
“Besok sore bisa ga, Bu?”tanya Robby.
“Aku ga mau kalau sore. Aku maunya dari pagi sampai besok paginya,”sms Bu Intan. Isi sms-nya ini memang menunjukkan nafsu seks-nya yang sangat besar terhadap pemuda itu.
“Ohh Bu…kapan?”balas Robby.
“Pokoknya kalau sudah ada waktu nanti Ibu kasih tahu,”jawab Bu Intan.
“Iya, Bu. Dari dulu sejak pertama lihat Bu Intan, aku selalu menghayal bisa ngentot sama Bu Intan,”sms Robby.
“Ibu juga. Mata nakalmu bikin Ibu sering gatal pengen ngentot sama kamu say,”balas Robby.
Lalu Bu Intan melanjutkan lagi,”Udah satu tahun ini Ibu ga pernah lagi main sama suami. Ibu gatel banget say,”sms Bu Intan.
“Oh Bu. Aku pengen segera jumpa sama ibu,”tulis Robby dalam sms-nya.
“Iya sayang. Ibu juga udah pengen banget. Kemarin aja seandainya lagi ga ada acara ibu udah pengen ditidurin sama kamu. Apalagi pas pegang kontolmu yang besar dan panjang itu say…ibu sange banget sebenarnya waktu itu say…,”
Demikianlah sms-sms antara dua manusia yang memasuki lingkaran perselingkuhan itu. Dan ketika ber-sms itu, Bu Intan sama halnya dengan Robby sedang sendirian di kamarnya. Ia nyaris bugil karena nafsunya pada pemuda yang bernama Robby itu.
Bu Intan hanya tinggal berdua suaminya di rumahnya, serta dua pembantu. Anak paling besar laki-laki sudah menikah dengan 1 anak tinggal di Yogyakarta, anaknya nomor dua Windya Ristanti menikah dengan kakak Ilham yang temannya Robby, sementara anaknya yang paling kecil perempuan, kuliah di UGM. Jadi ketika suaminya kerja, Bu Intan hanya ditemani pembantu. Dan ini membuat Bu Intan dan Robby saling memupuk fantasi birahi di antara mereka. Mereka dengan leluasa merayu dan dirayu melalui telepon atau sms.
Bu Intan begitu rindu-birahi dengan batang perkasa pemuda itu. Ia sudah pernah mengocoknya. Bahkan Bu Intan merasa jemarinya hampir tidak bisa melingkari batang kontol pemuda itu ketika kontol itu menegang maksimal. Dan Bu Intan sering sangek berat manakala membayangkan kontol Robby yang besar dan panjang itu mengeras dalam genggamannya. Dan itu sering membuatnya gelisah di ranjangnya. Ia sangat ingin kontol besar pemuda itu mengentoti memeknya yang sudah sangat gatal. Hayalnya membayangkan pertemuan kelamin mereka akan sangat menempel ketat karena besarnya kontol Robby. Ia sering membayangkan pinggul pemuda itu yang nampak kokoh bergerak naik turun di antara selangkanganya. Bu Intan berjanji dalam hati akan sepenuh perasaan menikmati entotan pemuda itu, ketika waktunya tiba. Bu Intan sangat yakin saat yang ia nanti tidak akan lama lagi. Nafsu seksualnya sangat menuntut untuk disalurkan sepuasnya.

Related Post