Cerita mesum

Pelampiasan Akibat Cemburu

Cerita mesum – Kebetulan pada saat itu, saya mempunyai seorang kekasih teman satu sekolah, nama panggilannya Lusi. Dia adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara. Lusi tinggal di Bandung bersama kakaknya sedangkan orang tua dan adik-adiknya menetap di luar Jawa.

Selama berpacaran dgn Lusi, saya belum pernah melakukan seperti apa yg saya lakukan dgn Mbak Susi di Yogya. Paling maksimal saya hanya mencium pipi atau kening Lusi, itupun saya lakukan jika ada acara khusus. Seperti biasanya, karena usai sekolah sore hari maka saya mengantarkan Lusi pulang ke rumahnya di daerah Bandung Barat. Biasanya setelah sampai dirumah Lusi saya langsung pulang, tp hari itu saya sengaja untuk masuk dulu ke rumah Lusi.

“Kamu mau saya temanin dulu apa nggak?” tanya saya kepada Lusi.

“Temanin yach.., besok khan tanggal merah, lagian kakakku lagi nonton di luar”, jawab Lusi dgn ringanya.

“Oke, kalau gitu mobilnya saya masukin ke carport aja, nggak usah diparkir di jalan”, balas saya sambil membuka pintu pagar rumahnya.

Baca Juga: Anak Ibu Kost Yang Cantik

Setelah memasukkan mobil, saya terus masuk ke ruang tamu dan duduk. Tdk begitu lama Lusi ke ruang tamu sambil membawa teh hangat untuk saya.

“Aku ganti baju dulu, kamu minum dech” kata Lusi kepada saya.

“Iya, aku nunggu di sini aja lah, kamu jangan lama-lama ganti bajunya” kata saya.

Tdk begitu lama, Lusi telah kembali dgn menggunakan kaos dan celana pendek. Dia duduk di samping saya, begitu saya perhatikan ternyata satu kancing bagian atas kaosnya dibuka. Hal itu menimbulkan rangsangan untuk mencumbunya.

“Lusi, kakakmu kira-kira pulang jam berapa” tanya saya.

“Yach.. Paling juga jam 10 an sampai rumah, kenapa?” tanya Lusi kepada saya.

“ Nggak.. Ya berarti masih ada waktu cukup” sahut saya lagi.

“Emang.. Mau apa?” tanya Lusi menyelidik Kemudian saya menarik badan Lusi untuk bersandar di badan saya dan saya tanya,

” Boleh saya cium kamu?” Tanpa menunggu jawaban dari Lusi, saya sudah mendaratkan bibir saya di bibirnya.

Uch.. Lusi pun membalas ciuman saya ini dan dia juga membuka mulutnya dgn maksud agar lidahnya bisa menggapai lidah saya.

“Lusi.. Aku sayang sama kamu” kata saya seraya menghentikan untuk sesaat ciuman di bibirnya.

“ He.. Eh, aku juga” balas Lusi sambil terus menggigit bibir dan lidah saya.

Sambil mencium, tangan saya juga sudah mulai mengelus punggungnya dan kemudian bergeser ke lengannya dan berhenti sejenak di sekitar ketiaknya. Tangan Lusi pun semakin kencang memeluk badan saya, kelihatannya Lusi sudah terbawa emosinya dan dia juga kelihatannya menikmati ketika saya mulai mencium belakang telinga dan lehernya.

“Mmmpphh.. Achhh.. Ko, geli” desah Lusi sambil ke dua tangannya memegang kepala saya.

“ Lusi.., suka ya..?” tanya saya sambil terus menciuminya dan tangan saya mengelus-elus lengannya.
Ciuman saya dari leher kemudian turun ke bagian bawah leher dimana kancing kaosnya sudah terbuka satu. Hanya sebentar ciuman saya di daerah itu, kemudian ciuman saya geser lagi ke bibirnya. Sambil berciuman, saya pindahkan tangan saya ke buah dadanya dan saya usap-usap dari luar kaosnya dgn sekali-kali saya remas.

“Ko.. Jangan.. Sakit” bisik Lusi sambil kepalanya mendongak ke atas.

Tangan sayapun terus mencoba untuk masuk melalui kancing yg telah terbuka dan langsung menyusup ke dalam cup bra nya.

“Ooch..” desah Lusi, sambil tangannya ikut memegangi tangan saya, ntah maksudnya melarang atau mempertahankan tangan saya untuk terus mengolahnya.

Tetapi.., setelah beberapa saat saya meremas buah dadanya, tiba-tiba..

“Plak..” tangan Lusi pun menampar pipi saya.

Kaget juga saya dgn tamparan dia itu, saya pikir saking enaknya di remas buah dadanya sehingga dia menjadi begitu tenyata sebaliknya, dia kaget karena diremas-remas buah dadanya.

“Kamu.. Ngapain Ko..” tanya Lusi kepada saya.

“ Ech.., kenapa kamu nggak mau” saya balik bertanya.

“ Iya.. Jangan nggak boleh khan” balas Lusi.

“ Ya sudah.. Maaf ya” kata saya sambil kemudian saya membetulkan duduk saya.

Untuk beberapa saat kSusi berdua terdiam, mungkin Lusi menyesali apa yg baru saja terjadi dan saya menyesali karena apa yg saya rencanakan tdk terpenuhi padahal k0ntol saya sudah mengeras karena terangsang. Dgn berat hati, saya akhirnya minta ijin untuk pulang.

“Kamu kesel yach.. Saya nggak mau” tanya Lusi kepada saya.

“Nggak, kenapa, saya tdk mau memaksa khok” jawab saya kemudian.

“ Ko.., saya sayang sama kamu tp saya belum bisa untuk menerima apa yg tadi kamu lakukan dan jika hal itu kita lakukan pasti ingin mengulang terus” begitu penjelasan Lusi kepada saya.

“ Nggak apa-apa khok, nggak usah kamu pikirin lagi dech Lusi” balas saya sambil berdiri untuk pulang.

“ Saya pulang ya dan maaf soal tadi” kata saya kepada Lusi, kemudian saya kecup keningnya.

“ Iya dech hati-hati nggak usah ngebut” kata Lusi.

Setelah kejadian malam itu, hubungan saya dgn Lusi tetap berlangsung terus dan paling maksimal saya hanya mengecup bibirnya sebentar tanpa ada aktivitas lainnya. Tdk terasa hubungan kSusi sudah mencapai 2 tahun dan kSusi berdua lulus dari SMA di Bandung. Saya melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Yogya dan Lusi kuliah di Bandung. KSusi hanya berkomunikasi dgn telepon atau surat dan bertemu jika masa kuliah sedang libur dan tdk terasa telah lebih dari 1 tahun kSusi berhubungan jarak jauh.

Sampai suatu malam, sehabis kuliah saya dibonceng oleh teman kuliah saya yg bernama Agus melintas dikawasan Malioboro biasa mau cuci mata karena sudah sumpek dgn kuliah seharian dan saya dikagetkan ketika melihat satu rombongan yg menarik perhatian saya dimana saya lihat Lusi berada di antara rombongan itu.

“Agus, kita ikutin rombongan itu, kayaknya aku liat Lusi dech” kata saya.

“ Hah.. Masa sich, khok kamu bisa nggak tahu kalau dia ke Yogya” balas Agus dgn nada kaget.
Agus tahu kalau saya punya kekasih di Bandung yg namanya Lusi.

“Iya nich.. Jangan-jangan aku salah liat, tp kita ikutin aja lah paling nggak kita bisa tahu mereka nginap dimana” balas saya kemudian.

Akhirnya saya dan Agus mengikuti rombongan itu dan saya pastikan kalau yg saya liat itu adalah Lusi tdk salah lagi.

Kita ikuti sampai mereka masuk ke sebuah hotel di samping stasiun.

“Sudah, sampeLusi aja Ko, cuek aja.. Khok dia nggak kasih kabar sama kamu” kata Agus kepada saya ketika melihat saya ragu mau ikut masuk ke hotel itu atau tdk.

“Ayo.. Lah, parkirLusi aja motornya kita datengin” balas saya kepada Agus.

Setelah memarkir motor, saya dan Agus mendatangani recepAgusnist dan menanyakan rombongan yg baru masuk tersebut. “Selamat malam Mbak, mau nanya apa yg barusan rombongan dari Universitas ‘xx’ dari Bandung” tanya saya kepada Mbak di recepAgusnist.

“ Iya, betul Mas, sudah 2 hari rombongan itu disini, besok pagi sudah mau check out ke Semarang” jawab Mbak nya itu. “ Bisa saya minta tolong dihubungi dgn salah satu dari rombongan itu namanya Lusi?” tanya saya kepada si Mbak.

“ Sebentar ya Mas, saya coba dulu” jawab si Mbak recepAgusnist itu sambil mengangkat gagang telepon.

Tdk beberapa lama Lusi terlihat menuju counter recepAgusnist dan saya lihat muka dia kaget karena melihat saya.

“Hi.., khok tahu saya ada di sini” tanya Lusi.

“ Iya, tadi liat lagi jalan rame-rame di Malioboro” jawab saya ke Lusi.

Setelah memperkenalkan teman saya Agus kepada Lusi, kemudian saya bertanya lagi ke Lusi.
“Khok kamu nggak kasih kabar kalau mau ke Yogya” kata saya.

“Iya, sorry ya saya nggak sempet kasih tahu, besok juga sudah mau ke Semarang, disana 2 malam terus balik lagi ke Bandung.

:Kita lagi studi banding” balas Lusi.

Tdk lama kemudian, datang seorang temannya Lusi yg setelah dikenalkan ternyata bernama Santo. Dgn nada yg agak sok dia bertanya kepada Lusi,

“ Siapa Lusi?”

“Oh, ini temanku waktu SMA di Bandung, sekarang kuliah di Yogya” jawab Lusi dgn nada ragu.
Saya kaget juga melihat wajah Lusi yg ragu dan kenapa juga dia bilang saya temannya khok bukan pacar atau apalah.. padahal saya dgn Lusi sudah menjalin hubungan dekat selama 4tahun lebih. Demikian percakapan awal yg tdk mengenakan dan akhirnya saya tdk mau berlama-lama di hotel tersebut dan saya bilang kepada Lusi.

“Ok, nanti setelah kamu sampai di Bandung kasih tahu saya dan saya akan ke Bandung”. Dgn hati yg kesal dan dgn berbagai macam pertanyaan yg berkecamuk di kepala, saya dan Agus pulang.

Agus pun tahu perasaan saya tetapi dia diam saja tdk mau mengungkit masalah itu.

“Sudah.. Ntar ke Bandung aja, di clear kan”komentar Agus singkat, padat dan jelas.

Beberapa minggu setelah kejadian di Yogya dan liburan kuliah sudah mulai sayapun pergi ke Bandung dgn menggunakan bis malam. Setibanya di Bandung, setelah istirahat sebentar di rumah, saya berangkat menuju ke rumah Lusi dgn membawa oleh-oleh. Dgn perasaan hati yg agak galau, saya menekan bel rumahnya dan tdk begitu lama Lusi membukakan pintu pagar rumahnya.

“Eh.. Ko, apa kabar, kapan sampainya?” tanya Lusi.

“Tadi subuh naik bus malam. Ini dibawain bakpia untuk di rumah” jawab saya sambil masuk ke rumahnya.

“ Kok sepi, sedang pada pergi?” tanya saya lagi.

“ Iya, lagi ke Ciwidey mau lihat Situ Patenggang” jawab Lusi.

“Sebentar ya, saya buatkan teh dulu untuk kamu” kata Lusi sambil berjalan ke arah dapur.
Sayapun kemudian duduk dan seperti biasanya di bawah meja tamu terdapat beberapa album dan saya mengambil satu yg paling atas.

Mungkin ada foto-foto baru yg bisa saya lihat sambil menunggu. Sayapun membuka lembar demi lembar halaman album tersebut dan setelah beberapa halaman saya terkejut karena terdapat beberapa foto Lusi berdua dgn Santo dalam posisi seperti sepasang muda-mudi yg sedang mabuk asmara. Ketika Lusi datang dgn membawa teh hangat, saya tanyakan perihal foto-foto tersebut dan..

“Oh.. Itu, ya cuma iseng aja foto berdua pas waktu di Yogya dan Semarang” Lusi menjawab dgn mimik muka yg tampaknya dibuat setenang mungkin.

Tetapi saya bisa menangkap semua itu.

“Tp.. Nggak ada apa-apa khok” kata Lusi kemudian.

Dgn rasa kesal, saya tutup album itu.

“Kamu pacaran sama dia?” tanya saya kepada Lusi.

“ Nggak.. yach akhir-akhir ini nggak tahu kenapa saya dekat dgn dia” jawab Lusi dgn nada yg sedikit ragu.

“ Kamu sich Ko.. Pake kuliah di Yogya, jadi saya nggak ada yg nemenin di Bandung ” lanjut Lusi mencoba untuk memberi penjelasan.

“ Maaf ya Lusi, saya jadi nggak bisa nemenin kamu di Bandung” kata saya.

Kemudian saya meminum tehnya dan setelah itu saya tarik badan Lusi untuk mendekat ke saya dan langsung saya cium bibirnya. Bibir kSusipun saling bertemu dan terus sampai lidaHPun ikut bertaut. Wach.. sudah tambah pengalaman nich si Lusi, saya berkata di dalam hati.

“Lusi.. Saya kangen ma kamu” kata saya.

“ Iya.. Aku juga, terus Ko.. Ach..” desah Lusi membalas ucapan saya.

Sayapun tdk hanya mencium bibirnya saja tp bergerak terus menelusuri telinga, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Tangan sayapun mulai bergerilya dgn mulai membuka kancing dari kaos yg dipakai, saya buka satu persatu dan akhirnya terbuka semuanya yg mengakibatkan saya bisa melihat dgn jelas bra yg menutup dua buah bukit kembarnya.

Dgn sedikit ragu-ragu, saya sentuh bagian atas buah dadanya dan sekali-kali saya elus dgn mengitari bagian yg menggunung dari buah dada Lusi.

“Ach.. Enak Ko.. Geli..” kata Lusi sambil mendesah manja.

“ Boleh saya remes?” tanya saya..

“Iya.. Ayo..” pinta Lusi Dgn rasa heran karena dulu Lusi tdk mau, sayapun kemudian meremas dari luar cup bra nya dan setelah beberapa lama saya beranikan untuk menurunkan tali bra nya dan menarik sampai ke perutnya.

Tampaklah dua buah bukit kembar yg masih ranum dgn putingnya yg agak menonjol.

“Lusi.. Bagus punyamu” kata saya sambil mengelus dan mendekatkan bibir saya untuk mengecup dan mengulum putingnya.

“ Ko.. Ayo, isap putingku ya” pinta Lusi.

Tampaknya Lusi sudah mulai terangsang dan saya pun tdk menyia-nyiakan permintaan Lusi itu. Sambil mengulum putingnya dgn bergantian kiri dan kanan sambil meremas-remas buah dadanya, saya merasa tangan Lusi mulai turun ke arah k0ntol saya yg sudah tegang. “Ko.. Keras sekali punyamu” kata Lusi sambil mengelus-elus k0ntol saya dari luar celana saya.

“ Buka Lusi..” saya berkata kepada Lusi dan tanpa ragu-ragu Lusi pun membuka risleting celana saya dan mengeluarkannya.

Kemudian Lusi pun mulai meremas- remas k0ntol saya dan mengocoknya.

“Lusi.. Enak, terus.. Ach..” desah saya dimana mulut saya terus mengulum dan mengisap putingnya bagian kiri dan kanan.

Melihat Lusi semakin terangsang, saya memberanikan tangan saya untuk menjamah daerah terlarangnya. Saya usap sambil menekan Lusigan jari saya di bagian kewanitaannya dari luar celana pendek yg dipakainya.

“Ko.. Khok tangannya ke situ?”tanya Lusi sambil terus mendesah.

“ Kenapa, kamu nggak mau?”saya balik bertanya.

Ternyata Lusi diam saja bahkan desahannya semakin kuat. Melihat keadaan itu, saya semakin berani untuk menurunkan celana pendek Lusi yg hanya memakai karet sekaligus dgn celana dalamnya. Untuk sekejap, Lusi menahan laju tangan saya, tetapi setelah saya berhasil menurunkan celananya, akhirnya Lusi diam saja dan bahkan merenggangkan ke dua kakinya. Jari-jari tangan saya pun terus mengolah lahan yg selama ini ditutupinya, saya usap-usap dan sekali-kali jari tengah saya masuk ke dalam memeknya. Aktifitas ini saya lakukan untuk beberapa menit sampai akhirnya daerah kewanitaannya menjadi basah.

“Lusi.. Mulai basah tuch” kata saya .

“Iya.. Enak Ko, terus Ko.., mau..” balas Lusi dgn suara yg mendesah.

Kemudian saya menarik badan Lusi agar berbaLusigkan di sofa ruang tamu dan tanpa ada penolakan Lusi pun sudah berbaLusig. Aktivitas dari jari-jari tangan saya teruskan untuk mengolah memek Lusi, sambil terus memilin secara perlahan klitorisnya dan sekali-kali masuk ke dalam lubangnya, tangan saya pun berusaha untuk merenggangkan ke dua paha Lusi agar lebih mudah. Tanpa adanya penolakan, entah karena sudah terangsang, Lusi membuka lebar- lebar ke dua pahanya sehingga aktivitas jari saya semakin mudah di sekitar memeknya.

“Lusi.. Aku masukin ya” pinta saya.. “Jangan..

“Aku nggak mau” jawab Lusi.

Lusi menjawab begitu sambil terus menggoyangkan pinggulnya sehingga jari-jari tangan saya keluar masuk di lubangnya. Tangan Lusi sendiri sekali-kali menahan laju tangan saya. Aktifitas mulut saya juga terus berlanjut di sekitar buah dadanya karena saya ingin membuat dia benar-benar terangsang dan akhirnya bersedia untuk bersetubuh. Sayapun mencoba untuk berbaLusig di samping Lusi sambil terus mengolah memeknya dan tangan Lusi pun semakin meremas dan mengocok k0ntol saya yg sudah benar-benar keras. Setelah beberapa lamai, sayapun sudah tdk tahan lagi dan mulai manaiki tubuh Lusi agar k0ntol saya bisa mendekat ke memeknya Lusi.

“Tahan.. Ya..” kata saya kepada Lusi dgn nada memeLusitah secara halus.

“ Jangan Ko.. Aku nggak mau” kata Lusi sambil mencoba untuk menahan k0ntol saya yg sudah berada di depan lubangnya dan Lusi berusaha untuk merapatkan kakinya tetapi tdk bisa karena saya berada di antara ke dua kakinya.

Sayapun terus memajukan k0ntol saya, setelah bagian kepala k0ntol saya tepat berada di memeknya saya mendorong agar kepala k0ntolnya bisa masuk.

“Ach..” saya mendesah sambil terus mendorong agar k0ntol saya bisa masuk seluruhnya.

“ Ko.. Jangan.. Aduhh.. Sakit” kata Lusi sambil berusaha untuk mendorong badan saya.

“ Tahan Lusi, sedikit lagi masuk semua..” kata saya selanjutnya.

Sampai akhirnya k0ntol saya masuk seluruhnya dan kemudian saya diamkan sebentar agar memek Lusi beradaptasi dgn k0ntol saya yg baru masuk. Setelah beberapa saat saya diamkan, saya coba untuk memaju dan mundurkan k0ntol saya.

“Oh.. Lusi.. Enak sekali, sempit sekali..” desah saya sambil terus memompa rongga kewanitaannya.

“ Ko.. sudah.. Ko.., jangan diterusin” kata Lusi dgn nada hampir menangis.

Saya terus saja memompanya.. Slruup.. Slruup.. Begitulah suaranya ketika k0ntol saya maju mundur. Raut muka Lusi mulai memerah dan matanya pun mulai menutup seakan akan menahan rasa sakit di bagian memeknya. Namun demikian, jika saya perhatikan dari gerakan pinggulnya yg mulai bergoyang, saya yakin Lusi mulai merasakan nikmatnya k0ntol saya. Birahi Tinggi
Lusi terus menggoyangkan pinggulnya seirama dgn maju mundurnya k0ntol saya dan setelah beberapa lama dgn posisi saya di atas, dari k0ntol saya terasa ingin mengeluarkan air mani.

“Lusi.. Sebentar lagi saya mau keluar”kata saya.

“Ko.. Sudah.. Jangan diterusin” pinta Lusi dgn air mata yg mulai keluar dan saya tetap tdk peduli dan terus memompanya.

“ Lusi.. Saya keluar.. Ach.. Ach..” saya mengerang tertahan karena merasakan nikmatnya keluar di dalam memek yg hangat.

Sayapun mengeluarkan banyak sekali air mani di dalam memek Lusi. Untuk beberapa saat saya diamkan k0ntol saya untuk tetap di dalam memek Lusi. Sampai k0ntol saya mengecil, baru saya tarik dan saya lihat air mani saya mengalir keluar dari memek Lusi dibarengi dgn bercak berwarna merah dan jatuh di sofa tempat kSusi barusan melakukan aksi persetubuhan.

“Lusi.. Saya sudah ambil perawan kamu” kata saya kepada Lusi.

“Iya.. Ko, kamu khok teganya begitu” balas Lusi dgn suara agak parau.

“ Saya bakalan hamil nggak, khan nggak boleh kita melakukan ini” lanjut Lusi masih dgn suara yg agak parau.

Kemudian Lusi berdiri dan berlari ke dalam kamarnya dan ke kamar mandi untuk membersihkan memeknya dari air mani yg telah saya keluarkan di dalam memeknya.. Setelah kejadian itu, saya berhasil beberapa kali bersetubuh dgn Lusi sampai akhirnya dia memutuskan hubungannya dgn saya dan kemudian menikah dgn Santo tanpa memberitahu saya sama sekali.

Saat ini, Lusi tinggal di Jakarta dan sudah mempunyai 2 orang anak dari Santo. Saya menyesal karena tdk bisa menjadi suSusinya tetapi setelah saya pikir-pikir lagi ternyata saya lebih beruntung karena telah memperoleh keperawanan Lusi dan saya tdk tahu bagaimana Lusi menjelaskan kepada Santo pada saat ‘malam pengantin’nya berlangsung.

Lusi, saya minta maaf karena saya telah membuat kamu berpikir keras untuk menjelaskan status keperawanan kamu kepada Santo. Untuk Santo, jangan paksa Lusi untuk menjelaskan siapa yg mengambil keperawanan Lusi. Dan untuk kalian berdua.. Lusi dan Santo, mudah- mudahan perkawinan kalian langgeng tanpa mempermasalahkan hal-hal yg telah lampau.

Related Post

Tags: